Apakah Sah Bayar Zakat Tanpa Bersalaman di Tengah Wabah Corona?

Wabah virus corona dan berbagai kebijakan pembatasan mendorong otoritas agama untuk menyesuaikan ketentuan pembayaran dan penyaluran zakat. Seperti apa hukumnya?

Tiap tahun, umat Muslim dengan kondisi berkecukupan di seluruh dunia menunaikan zakat fitrah sebagai kewajiban di bulan Ramadan. Zakat fitrah merupakan harta berupa uang atau beras senilai tiga setengah liter sebagai bentuk penyucian jiwa yang diberikan kepada kelompok rentan seperti fakir miskin.

Bagi pandangan ulama terdahulu, zakat fitrah sejatinya diberikan di akhir Ramadan agar Muslim yang masuk dalam kelompok rentan bisa ikut merayakan Idul Fitri. Tapi di tengah pandemi Covid-19, pembayaran zakat fitrah dapat dilakukan lebih cepat, kata Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas.

“Sebelum Ramadan, bulan Syaban itu tidak boleh. Tapi kalau sudah bulan Ramadan, dia boleh keluarkan. Itu tidak ada fatwanya, tapi ulama sudah banyak berpendapat seperti itu,” kata Anwar kepada BBC News Indonesia, Jumat (17/4).

Anwar juga meminta para pengelola zakat mengatur secara hati-hati distribusi zakat fitrah karena masa pandemi virus corona tak bisa diprediksi.

“Oleh karena itu, bagi saya terpikir kalau orang berlomba-lomba mengeluarkan hari ini lalu tidak ada yang tercadangkan untuk bulan depan, ngeri juga,” kata Anwar.

Apakah sah ijab kabul zakat fitrah tanpa bersalaman?

Ketentuan ijab kabul atau pemberian dan penerimaan zakat fitrah menjadi perbincangan di kalangan ulama sejak dulu. Sebagian ulama berpandangan, zakat fitrah baru sah ketika terjadi pertemuan antara pemberi dan penerima dengan membaca doa niat dan bersalaman.

Pandangan ini diikuti sebagian besar Muslim di Indonesia. Tiap tahun, antara pemberi, pengelola atau penerima zakat bertemu langsung dengan membaca doa niat dan bersalaman. Biasanya dilakukan di masjid atau temu muka dengan penerima zakat.

Menurut Sekjen MUI, Anwar Abbas, ketentuan tersebut tidak wajib, apalagi di masa pandemi. Anwar berpandangan, umat Islam sebaiknya meninggalkan sesuatu yang baik, seperti bersalaman demi menghindari penularan virus corona.

“Bersalaman itu tak wajib. Sementara menghindari diri dari penyakit kan wajib. Berbentur antara yang sunah dan yang wajib mana yang didahulukan? Yang wajib yang didahulukan,” katanya.

Apa saja jenis-jenis zakat?

Selain zakat fitrah yang wajib dikeluarkan tiap Ramadan, umat Muslim juga punya kewajiban untuk membayar zakat maal (harta). Bedanya, zakat maal tak mesti dikeluarkan pada bulan Ramadan.

Zakat maal wajib dibayar seorang Muslim yang telah memenuhi syarat kepemilikan harta benda sedikitnya senilai 85 gram emas (nisab) dan telah memiliki harta tersebut selama satu tahun (haul). Harta ini harus dikeluarkan pemiliknya sebesar 2,5 persen sebagai zakat maal.

Zakat maal bercabang menjadi jenis-jenis zakat lainnya seperti zakat penghasilan, perniagaan, pertanian, pertambangan, hasil laut, hasil ternak, harta temuan, obligasi, tabungan, emas, perak dan lainnya. Masing-masing zakat ini memiliki perhitungannya sendiri-sendiri.

Berbeda pula dengan infak dan sedekah. Menurut Undang Undang No. 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, infak adalah harta yang dikeluarkan seseorang atau badan usaha di luar zakat untuk kemaslahatan umum.

Sementara itu, sedekah adalah harta atau nonharta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan usaha di luar zakat untuk kemaslahatan umum. Infak dan sedekah bisa dikeluarkan kapan saja.

Menurut Sekjen MUI, Anwar Abbas, kebanyakan muslim di Indonesia membayar zakat maal di bulan puasa karena `pahalanya besar`. Namun kebiasaan membayar zakat maal di bulan Ramadan ini bisa disesuaikan tergantung kondisi.

Apa bisa zakat maal dibayar di luar waktu jatuh tempo?

Anwar Abbas mengatakan, pembayaran zakat maal di masa pandemi virus corona dapat dikeluarkan meski belum mencapai waktu satu tahun kepemilikan. “Kalau harta sudah lebih satu nisab, dibayar saja sekarang, nanti dihitung (ketika jatuh tempo),” katanya.

Dia memberikan ilustrasi, jika seorang Muslim telah memenuhi syarat untuk membayar zakat maal, punya jatuh tempo membayar pada tanggal 20 Ramadan, maka ia bisa mengeluarkan sebelumnya. Pengeluaran zakat maal sebelum waktunya ini kemudian dihitung menjelang tanggal 20 Ramadan.

“Tapi karena orang butuh, masyarakat butuh dia bayar sekarang belum bulan Ramadan, itu nanti tanggal 20 dia hitung. Sudah berapa zakat dia keluarkan. (Misalnya) ternyata sudah 60 persen yang sudah dikeluarkan, ya tinggal 40 persen lagi (dibayar),” kata Anwar.

Apakah dokter dan perawat pasien Covid-19 berhak menerima zakat?

Berdasarkan Al Quran Surat At-Taubah ayat 60, terdapat delapan kelompok yang berhak menerima zakat.

Mereka adalah fakir (tak punya harta benda, tak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari), miskin (minim harta benda dan tak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari), amil (pengelola zakat), dan mu`alaf (orang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan).

Selain itu penerima zakat juga termasuk hamba sahaya (budak yang ingin memerdekakan diri), ghamirin (orang terlilit utang), fisabilillah (orang berjuang di jalan Allah), dan ibnu sabil (orang yang kehabisan biaya di perjalanan).

Ketua Umum Asosiasi Dai Daiyah Indonesia, Syarif Hidayatullah mengatakan, tenaga kesehatan saat ini termasuk yang berhak menerima zakat. Dokter dan perawat merupakan kelompok fisabilillah.

“Seperti dokter sekarang dalam konteks perang, dia butuh macam-macam. Ya dia berhak, dan sekarang kan konteksnya dia ini perang melawan corona di tengah negara yang mungkin anggarannya terbatas,” katanya melalui sambungan telepon, Jumat (17/04).

Menurut pengurus Lembaga sosial Social Trust Fund (STF) ini, zakat bisa dikonversi menjadi peralatan medis seperti masker, dan pakaian khusus penanganan wabah. “Kalau butuhnya APD (alat pelindung diri), ya berikan APD,” katanya.

Dokter dan perawat pasien Covid-19 nonmuslim bisa menerima zakat?

Syarif menambahkan, zakat dari orang Islam diutamakan diberikan kepada delapan kelompok yang berhak. Di tengah pandemi virus corona, menurutnya, zakat tersebut bisa menyasar kepada kelompok nonmuslim.

“Tapi kalau misalkan itu diperlukan oleh orang nonmuslim di tengah situasi tertentu dan orang nonmuslim itu bukan merupakan orang yang memusuhi orang Islam, boleh,” kata Syarif.

Ia melanjutkan, hal ini termasuk dokter dan pasien yang menerima zakat dalam bentuk peralatan dan perlengkapan dalam merawat pasien Covid-19.

“Dalam konteks di Indonesia, nggak ada orang nonmuslim yang secara terbuka menyatakan memusuhi orang Islam. Kedua, ini kan dokter-dokter posisinya dalam kondisi memerangi wabah ini yang korbannya juga bisa umat Islam. Jadi intinya tidak masalah,” katanya.

Bagaimana seharusnya zakat online di masa pandemi virus corona?

Zakat online atau tanpa tatap muka sudah dilakukan satu dekade terakhir, dan semakin berkembang. Penyedia platform dari perbankan, perusahaan financial technology (FinTech) sampai e-commerce pun menyediakan pembayaran zakat secara online.

Pembayaran zakat secara online sangat disarankan selama pandemi virus corona. Kuncinya adalah transparansi, kata Syarif Hidayatullah.

“Itu yang paling utama (transparansi). Pakai ijab kabul terus tidak transparan itu malah bertentangan dengan maksud ijab kabul itu,” katanya.

Bagaimana penyaluran zakat di masa pandemi?

Zakat muslim dikelola Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Badan ini merupakan bentukan pemerintah yang bertugas merencanakan, mengumpulkan, menyalurkan hingga melaporkan penggunaan zakat dari masyarakat.

Untuk membantu peran Baznas dalam pengumpulan, distribusi dan pendayagunaan zakat, masyarakat dapat membentuk Lembaga Amil Zakat (LAZ). Dari situs resmi baznas.go.id per 21 April 2020, LAZ yang resmi terdaftar berjumlah 74 dari tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota.

Anggota Baznas, Emmy Hamidiyah mengatakan tak ada perbedaan pembayaran zakat antara sebelum dan di masa pandemi virus corona. Selama syarat dan ketentuannya berlaku, setiap Muslim wajib membayar zakat.

“Untuk zakat harta, apabila dia sudah memenuhi syaratnya, kemudian waktunya sudah terpenuhi memang sudah wajib dikeluarkan zakatnya,” kata Emmy kepada BBC News Indonesia, Jumat (17/4).

Baznas mengelola zakat, infak dan sedekah termasuk tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk disalurkan kepada mereka yang berhak mendapatkannya. Cara pembayaran secara daring melalui situs resmi dan pembayaran melalui perusahaan FinTech, transfer bank, dan Paypal.

Menurut Emmy, saat pandemi virus corona, jumlah orang-orang yang perlu mendapatkan bantuan bertambah. “Orang-orang yang tadinya tidak miskin, dia jatuh ke situ. Kemudian juga orang-orang yang berutang jadi lebih banyak,” katanya.

Penyaluran bantuan berupa APD juga diberikan kepada tenaga medis sampai penggali kubur pasien Covid-19. “APD yang sederhana, paling tidak melindungi mereka, karena mereka cukup terdampak,” katanya.

Emmy menambahkan, lembaganya sudah merancang program penyaluran zakat untuk jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Seluruh zakat yang masuk tidak serta merta digelontorkan secara besar-besaran di masa pandemi virus corona yang tak bisa diprediksi kapan akan berakhir.

“Selama masyarakat sadar untuk membayar zakat sesuai waktunya, Insya Allah bisa memberikan bantuan untuk jangka menengah dan jangka panjang,” katanya.

Dari data terakhir yang dapat diakses, per Februari 2019 Baznas telah menerima zakat, infak, dan sedekah dari masyarakat sebesar Rp36,9 miliar. Dana yang disalurkan mencapai Rp21 miliar.

Pada tahun 2018, Baznas melaporkan pengumpulan dana berdasarkan tingkat organisasi pengelola zakat di Indonesia sebesar Rp8,11 triliun dengan penyaluran mencapai Rp6,8 triliun. Dana ini terserap sebesar 83,77 persen di tahun tersebut.

Bagaimana masyarakat membayar zakat di masa pandemi virus corona?

Dian Novita, warga Palembang, memilih membayar zakat fitrah di masa pandemi dengan cara konvensional. Zakat fitrah dengan beras dan dibayar di akhir Ramadan.

Ia enggan menggunakan pembayaran zakat secara daring karena meyakini bertemu langsung dengan tetangga yang berhak menerima zakat jauh lebih baik. “Karena sebaiknya kita, memerhatikan tetangga sekitar. Jadi itu lebih penting,” kata Dian kepada BBC News Indonesia, Senin (21/04).

Dian menambahkan, tak akan bersalaman dengan penerima zakat sebagai upaya pencegahan penyebaran virus corona. “Kan nggak perlu salaman. Sama-sama pegang kantong platiknya, misalnya,” katanya..

Kenapa Tidak Pernah Update Info Lagi?

Kami segenap Admin Masjid Al-Muhajirin Jatisari Meminta Maaf Sebesar- besarnya Dikarenakan Ada kendala Teknis Jadi bisa Update Info dan Share Kegiatan Masjid Al – Muhajirin Baru ini . Semoga kedepannya bisa selalu Update seperti Kajian Islami dan kegiatan Kami .

Terima Kasih Yang telah Mengunjungi Website Kami . Jangan Lupa Komen dan Like . komen anda sangat berharga kami untuk memperbaruhi website agar dapat mensyiarkan agama islam ke penjuru wilayah di indonesia….

Mijen Bersholawat 2020 Bersama Habib Luthfi Bin Yahya Dan Gus Muwafiq Diiringi Babul Mustofa

Pjeengajian Bersholawat 2020 Bersama Habib Luthfi Bin Yahya Dan Gus Muwafiq Diiringi Babul Mustofa Bertempat Di Alun -Alun Jatisari Dihadiri Wakil Gubernur,Wali kota Semarang , Kecamatan Mijen , Kelurahan Jatisari, Kepala RW , Banser ,TNI.

Disponsori Oleh Patuna dan Donasi Warga Jatisari.

Media Partner : videocraphy channel , Rizqi rohman man Channel , Afif ali abidin Channel , Muhajirin Lestari Official Channel .

Akses website masjid lebih mudah via aplikasi “Dakwah Online”

Kini telah hadir aplikasi android yang bernama “Dakwah Online” (link : https://play.google.com/store/apps/details?id=mmf.dev.dakwahonline) yang me-relay konten dakwah dari berbagai masjid, di antaranya :

  1. Masjid Al-Muttaqin Kaliwungu, Kendal (https://muttaqinklw.or.id)
  2. Masjid Al-Muhajirin, Jatisari Mijen Kota Semarang (https://masjidlestari.or.id)
  3. Masjid Miftahul Jannah, Beringin, Kec. Ngaliyan, Kota Semarang (https://miftahuljannah.or.id)
  4. Masjid Permata Al Azhar (https://permataalazhar.or.id)
  5. Masjid Raya Baiturrahman, Kota Semarang (https://ypkpi-jateng.org)
  6. Masjid Agung Semarang, Kauman Kota Semarang (https://masjidagungsemarang.or.id)
  7. Masjid Agung Jawa Tengah, Kota Semarang (https://majt.or.id)
  8. Masjid Al-Burhan, Kota Salatiga (https://www.masjidalburhan.or.id)

Untuk saat ini, aplikasi dapat berjalan pada Handphone Android minimal versi 5.0. Silahkan install aplikasinya melalui link di atas. Jangan lupa berikan komentar terbaiknya dan rating bintang 5 🙂

Ta’aruf Dalam Islam Agar Sesuai Sunah?

Ta’aruf memang sudah sering sekali terdengar di kalangan masyarakat muslim. Namun, ternyata belum banyak juga yang mengerti dengan benar apa itu ta’aruf dalam Islam dan bagaimana prosesnya yang benar. Kebanyakan orang masih salah dalam mengartikan ta’aruf.

Ta’aruf dalam islam umumnya diartikan sebagai perkenalan.

Nah, bagi Kamu yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai pengertian ta’aruf dan bagaimana tata cara ta’aruf yang benar sesuai dengan syariat islam, mari simak informasi selengkapnya yang akan disajikan berikut ini.

Apa itu ta’aruf ?

Ta’aruf bisa diartikan dengan mengenalkan diri, mengenal baik, maupun berkenalan dengan orang lain.

Intinya adalah ta’aruf merupakan interaksi yang dilakukan antara dua orang atau lebih dengan disertai maksud atau tujuan tertentu. Jadi, secara bahasa pengertian ta’aruf sebenarnya luas karena bisa menyangkut persaudaraan, pertemanan, pernikahan, dan lain sebagainya.

Nah, ta’aruf yang selama ini banyak dikenal oleh masyarakat muslim yang ada di Indonesia adalah ta’aruf yang dihubungkan dengan dunia percintaan. Ya, dunia percintaan memang selalu menjadi topik yang menarik di dalam kehidupan masyarakat, terlebih lagi jika dilihat dalam sudut pandang islam.

Ta’aruf dalam hubungan percintaan bisa diartikan sebagai proses perkenalan yang tujuannya adalah menyempurnakan agama yaitu mengacu ke jenjang pernikahan. Bukan hanya sekedar ingin berkenalan saja ataupun iseng-iseng dalam mencari jodoh, lebih dari itu ta’ruf menjadi begitu mulia karena sang pelaku memiliki niat yang suci.

Perbedaan ta’aruf dan pacaran

Antara ta’aruf dan pacaran tentu saja berbeda. Dimana, ta’aruf merupakan proses perkenalan untuk menuju ke jenjang pernikahan sedangkan pacaran umumnya untuk saling mengenal antar lawan jenis yang awalnya tidak dilandasi dengan komitmen untuk menikah. Bahkan tidak jarang dimodusi dengan syahwat seks bebas.

Jika sudah menjalani proses pacaran lama dan merasa cocok barulah mereka melangsungkan pernikahan.

Ta’aruf dalam islam tentu sangat dianjurkan dibandingkan dengan pacaran karena dalam islam hukum pacaran itu haram. Ya, seperti yang telah diketahui bersama bahwa pacaran merupakan kegiatan yang mendekati zina sehingga dilarang oleh agama islam

Dalam proses ta’aruf nantinya akan ada pihak ketiga yang menemani proses ta’aruf tersebut yaitu mahramnya sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang buruk, lain halnya dengan pacaran yang seringnya berduaan sehingga memiliki peluang untuk mendekatkan diri pada zina.

Memang tidak semua pacaran itu buruk seperti misalnya pacaran bagi mereka yang telah menikah, ada pula pacaran pemuda-pemudi yang belum menikah, pacaran memang memiliki banyak mudhorotnya daripada manfaatnya.

Jika dilihat dari lama waktunya, tentu prinsip dari ta’aruf dalam islam adalah lebih cepat lebih baik.

Jika kedua calon mempelai sudah siap dan sama-sama mantap, maka pernikahan akan segera digelar. Namun, jika ada salah satu pihak yang merasa tidak cocok, maka mereka hanya sampai pada proses ta’aruf saja.

Nah, untuk pacaran sendiri lama waktunya memang tidak terbatas karena kebanyakan tidak ada komitmen untuk menikah. Jadi, bisa pacaran 1 bulan, 5 bulan, 1 tahun, dan lain sebagainya.

Kenapa ta’aruf lebih Indah di banding pacaran?

Ta’aruf memang sudah sering sekali terdengar di kalangan masyarakat muslim. Namun, ternyata belum banyak juga yang mengerti dengan benar apa itu ta’aruf dalam Islam dan bagaimana prosesnya yang benar. Kebanyakan orang masih salah dalam mengartikan ta’aruf.

Ta’aruf dalam islam umumnya diartikan sebagai perkenalan.

Nah, bagi Kamu yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai pengertian ta’aruf dan bagaimana tata cara ta’aruf yang benar sesuai dengan syariat islam, mari simak informasi selengkapnya yang akan disajikan berikut ini.

Pengertian Apa itu ta’aruf ?

apa itu taaruf dalam islam

Ta’aruf bisa diartikan dengan mengenalkan diri, mengenal baik, maupun berkenalan dengan orang lain.

Intinya adalah ta’aruf merupakan interaksi yang dilakukan antara dua orang atau lebih dengan disertai maksud atau tujuan tertentu. Jadi, secara bahasa pengertian ta’aruf sebenarnya luas karena bisa menyangkut persaudaraan, pertemanan, pernikahan, dan lain sebagainya.

Nah, ta’aruf yang selama ini banyak dikenal oleh masyarakat muslim yang ada di Indonesia adalah ta’aruf yang dihubungkan dengan dunia percintaan. Ya, dunia percintaan memang selalu menjadi topik yang menarik di dalam kehidupan masyarakat, terlebih lagi jika dilihat dalam sudut pandang islam.

Ta’aruf dalam hubungan percintaan bisa diartikan sebagai proses perkenalan yang tujuannya adalah menyempurnakan agama yaitu mengacu ke jenjang pernikahan. Bukan hanya sekedar ingin berkenalan saja ataupun iseng-iseng dalam mencari jodoh, lebih dari itu ta’ruf menjadi begitu mulia karena sang pelaku memiliki niat yang suci.

Perbedaan ta’aruf dan pacaran

perbedaan pacaran dan taaruf

Antara ta’aruf dan pacaran tentu saja berbeda. Dimana, ta’aruf merupakan proses perkenalan untuk menuju ke jenjang pernikahan sedangkan pacaran umumnya untuk saling mengenal antar lawan jenis yang awalnya tidak dilandasi dengan komitmen untuk menikah. Bahkan tidak jarang dimodusi dengan syahwat seks bebas.

Jika sudah menjalani proses pacaran lama dan merasa cocok barulah mereka melangsungkan pernikahan.

Ta’aruf dalam islam tentu sangat dianjurkan dibandingkan dengan pacaran karena dalam islam hukum pacaran itu haram. Ya, seperti yang telah diketahui bersama bahwa pacaran merupakan kegiatan yang mendekati zina sehingga dilarang oleh agama islam.

ta'aruf dalam islam

ta’aruf dalam islam

Dalam proses ta’aruf nantinya akan ada pihak ketiga yang menemani proses ta’aruf tersebut yaitu mahramnya sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang buruk, lain halnya dengan pacaran yang seringnya berduaan sehingga memiliki peluang untuk mendekatkan diri pada zina.

Memang tidak semua pacaran itu buruk seperti misalnya pacaran bagi mereka yang telah menikah, ada pula pacaran pemuda-pemudi yang belum menikah, pacaran memang memiliki banyak mudhorotnya daripada manfaatnya.

Jika dilihat dari lama waktunya, tentu prinsip dari ta’aruf dalam islam adalah lebih cepat lebih baik.

Jika kedua calon mempelai sudah siap dan sama-sama mantap, maka pernikahan akan segera digelar. Namun, jika ada salah satu pihak yang merasa tidak cocok, maka mereka hanya sampai pada proses ta’aruf saja.

Nah, untuk pacaran sendiri lama waktunya memang tidak terbatas karena kebanyakan tidak ada komitmen untuk menikah. Jadi, bisa pacaran 1 bulan, 5 bulan, 1 tahun, dan lain sebagainya.

Kenapa ta’aruf lebih Indah di banding pacaran?

Banyak sekali manfaat ta’aruf yang bisa Kamu dapatkan daripada proses pacaran yang umumnya banyak mendatangkan kemaksiatan. Nah, berikut ini akan disajikan manfaat dari keuntungan dari ta’aruf yang mungkin tidak pernah Kamu sadari.

  1. Terhindar dari zina

Ta’aruf merupakan sarana untuk menghindarkan Kamu dari hubungan zina atau berdua-duaan di tempat yang sepi karena dalam proses ta’aruf melarang laki-laki serta perempuan bertemu secara diam-diam tanpa adanya pendamping.

  1. Lebih fair

Saat ta’aruf berlangsung keduanya saling bertukar informasi mengenai kelebihan dan juga kekurangan masing-masing tanpa ada yang harus ditutup-tutupi. Pihak keluarga pun saling mengetahui akan hal tersebut. Jadi, tidak akan ada kebohongan dan pastinya lebih fair.

  1. Lebih efektif

Selama proses ta’aruf terjadi pertukaran informasi antara kedua belah pihak dalam waktu yang singkat sehingga tidak perlu untuk jalan-jalan layaknya orang yang berpacaran. Hal inilah yang mengakibatkan ta’aruf dianggap lebih efektif dibandingkan dengan pacaran.

  1. Prosesnya cepat

Yak butuh waktu lama dalam proses ta’aruf, jika keduanya sudah merasa banyak kecocokan, maka akan dilanjutkan ke jenjang selanjutnya yaitu lamaran dan kemudian menikah. Namun, jika merasa tidak cocok maka tidak ada kata putus, melainkan berhenti pada proses ta’aruf saja dan tidak menimbulkan permusuhan. Tentu hal ini berbeda dengan pacaran yang seringkali berakhir dengan permusuhan jika sudah putus.

Proses ta’aruf dalam islam

Sebenarnya proses ta’aruf dalam islam memang tidak ada buku panduannya, namun tetap harus sesuai dengan adab antara umat lawan jenis. Ada yang berpendapat bahwa proses ta’aruf terbagi menjadi dua yaitu dengan bertukar biodata terlebih dahulu, barulah mengadakan suatu pertemuan yang didampingi dengan mahramnya.

Ada pula yang melalui orang tua, saudara, atau tema-temannya dengan menanyakan apakah bersedia untuk diperkenalkan dengan si calon ta’aruf atau tidak, kemudian barulah menentukan tanggal pertemuannya jika memang bersedia.

Syarat ta’aruf agar sesuai syariat

Syarat-syarat agar ta’aruf tidak melanggar syariat adalah dengan meluruskan niat untuk menyempurnakan agama dengan menikah karena Allah ta’ala bukan karena keterpaksaan, menjaga kesucian saat melaksanakan ta’aruf dengan menjaga pKamungan, berlaku jujur dan tidak ada yag ditutup-tutupi, menerima atau menolak dengan cara yang baik, dan terakhir adalah harus ada mahram yang mendampingi.

Mengapa ta’aruf dalam islam harus disertai pendamping? Karena islam melarang laki-laki dan perempuan berdua-duaan tanpa ada pihak ketiga. Selain itu, dengan adanya pendamping juga akan meminimalisir terjadinya fitnah di masyarakat sekitar.

Apa itu khitbah?

Khitbah atau yang biasa disebut dengan lamaran adalah sebuah pernyataan atau permintaan dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan dengan maksud mengawininya. Lamaran ini bisa dilakukan oleh sang laki-lakinya secara langsung maupun diwakilkan oleh pihak lain yang sesuai dengan ketentuan agama islam.

Proses khitbah ini belum selesai jika pihak perempuan belum memberikan jawabannya. Jika, ia berkata iya berarti sang perempuan sudah resmi dilamar atau biasa disebut dengan makhtubah. Dan setelah khitbah ini Kamu beserta calon pasangan bisa memperdalam materi persiapan pernikahan dalam Islam yang sesuai sunnah.

link asli : http://deerham.com/taaruf-dalam-islam/

Memakmurkan Masjid

Tema Khutbah Jumat Masjid Al Muhajirin

Oleh K. M. Nurhan, M. Pd.

MEMAKMURKAN MASJID

         الحمدلله الذى نحمده ونستعينه ونستغفره , ونعوذ بالله من شرور أنفسناومن سيئات أعمالنا , من يهدالله فلا مظل له ومن يظلل فلا هادي له, وأشهد أن لا إله إلاالله , وحده لاشريك له , وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الذي لا نبي بعده, اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى أله وأصحابه ومن تبعهم باحسان إلى يوم القيامه , أما بعده :

        إخوان الكرام ,أيها المعتكفون رحمكم الله , إتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وانتم مسلمون , واعلموا أن الله تعالى قد قال فى كتابه الكريم , أعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

أيها الحاضرون المعتكفون رحمكم الله ,

Pertama-tama marilah kita senantiasa memanjatkan rasa syukur kita kehadirat Allah swt , yang telah melimpahkan nikmat-Nya kepada kita, terutama nikmat iman, islam dan kesehatan kepada kita semua, Sehingga siang ini kita dapat berkumpul untuk melaksanakan shalat Jum’at secara berjamaah tanpa ada halangan suatu apa. Kedua kalinya shalawat dan salam mari senantiasa kita haturkan ke junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw pembawa syafa’atul Udzma , semoga kita termasuk umatnya yang dapat meneladani sifat-sifatnya dan menjalani ajaran-ajarannya yang akhirnya kita mendapatkan syafatnya besuk di hari kiamat ,amin ya rabbal alamin.

Maka dengan berbagai anugerah yang kita terima saat ini , Marilah kita bersama-sama  memanfaatkannya secara maksimal dengan cara meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah swt, dengan cara menjalani perintah-perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-larangan-Nya. Hingga tercapai derajat muttaqin yang sesungguhnya . dan menjadi hamba Allah yang paling mulia disisi-Nya :Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13 :

Artinya : Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling  taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (al-Hujurat : 13)

أيها الحاضرون المعتكفون رحمكم الله  

Masjid merupakan Baitullah, di dalamnya Ia disembah dan senantiasa disebut nama-Nya. Masjid merupakan menara petunjuk dan bendera Islam. Allah memuliakan serta mengagungkan orang yang mengikatkan dirinya dengan masjid. Allah berfirman dalam surat Al-Jin ayat 18 :

“Artinya : Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah” [Al-Jin : 18]

Masjid ( مَسْجِد ) –dengan kasroh pada huruf jim- dalam bahasa Arab adalah isim makan (kata keterangan tempat) dari kata ( سَجَدَ – يَسْجُدُ – سُجُودًا , artinya bersujud) yang menyelisihi timbangan aslinya yaitu ( مَسْجَد ) –dengan fathah pada huruf jim-. Maka arti kata ( مَسْجِد ) adalah tempat bersujud, dan bentuk jamaknya adalah ( مَسَاجِد ). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(( … وَجُعِلَتْ لِيَ اْلأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا))

Artinya :” … dan (seluruh permukaan) bumi ini telah dijadikan untukku sebagai tempat bersujud dan alat bersuci.” (Muttafaq ‘alaihi)

Adapun menurut istilah yang dimaksud masjid adalah suatu bangunan yang memiliki batas-batas tertentu yang didirikan untuk tujuan beribadah kepada Allah seperti shalat, dzikir, membaca al-Qur’an dan ibadah lainnya. Dan lebih spesifik lagi yang dimaksud masjid di sini adalah tempat didirikannya shalat berjama’ah, baik ditegakkan di dalamnya shalat jum’at maupun tidak. Allah berfirman,                                                                                 

 Artinya :” … , (tetapi) janganlah kamu campuri mereka (istri-istri kamu) itu sedang kamu ber-i’tikaf dalam mesjid …” (QS. al-Baqarah: 187)

“Artinya : Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah” [Al-Jin : 18]  

Artinya :“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.” (QS. al-Baqarah:114)

Artinya :“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menuaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. at-Taubah:18)

Adapun kata “memakmurkan” adalah salah satu arti dari sebuah kata dalam bahasa Arab yaitu ( عَمَرَ – يَعْمُرُ -عِمَارَةً ) yang juga memiliki banyak arti lain di antaranya: menghuni (mendiami), menetapi, menyembah, mengabdi (berbakti), membangun (mendirikan), mengisi, memperbaiki, mencukupi, menghidupkan, menghormati dan memelihara.

Dengan demikian, yang dimaksud “memakmurkan masjid” adalah membangun dan mendirikan masjid, mengisi dan menghidupkannya dengan berbagai ibadah dan ketaatan kepada Allah swt, menghormati dan memeliharanya dengan cara membersihkannya dari kotoran-kotoran dan sampah serta memberinya wewangian.

Bentuk-bentuk Memakmurkan Masjid dan Keutamaannya

Setiap muslim (khususnya kaum laki-laki) wajib memakmurkan masjid-masjid Allah dengan berbagai ibadah dan ketaatan, karena padanya ada keutamaan. Dan Allah menyifati orang-orang yang memakmurkan masjid-masjidNya sebagai orang-orang mukmin, sebagaimana dalam firman-Nya,

Artinya :“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. at-Taubah:18)

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

…..إذا رأيتم الرجل يعتاد المساجد فاشهدوا له بالإيمان، قال الله عز وجل         { إنما يعمر مساجد الله من آمن بالله واليوم الآخر . . الآية }  رواه الترمذي وقال : حديث حسن                                                                               

Artinya :“Jika kamu melihat orang rajin mendangi masjid, maka persaksikanlah ia sebagai orang yang beriman.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan beliau menghasankannya serta yang lainnya. Didhaifkan oleh Syaikh al-Albani dalam Dha’if al-Jami’ no. 509). Hadits ini dha’if, tetapi maknanya benar sesuai ayat di atas.

Semua bentuk ketaatan apapun yang dilakukan di dalam masjid atau terkait dengan masjid maka hal itu termasuk bentuk memakmurkannya.

            Dalam surat At-Taubah ayat 18 tersebut terkandung beberpa kriteria para pemakmur masjid , atau dengan kata lain orang – orang yang bisa dianggap meramaikan masjid yaitu :

1. orang-orang yang beriman kepada Allah  إنما يعمر مساجد الله من أمن بالله .

 Iman kepada Allah merupakan  landasan utama bagi setiap amal perbuatan kita ,Semua amal saleh akan bernilai ibadah jika dilaksanakan atas dasar keimanan kepada Allah swt. Iman disini meliuputi kepatuhan terhadap perintah dan larangan dari Allah , ketundukan terhadap hukum dan aturan dari Allah ,ketulusan dalam mengharapkan ridlo dari Allah  dan tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.

إني وجهت وجهي للذي فطر السموات والأرض حنيفا مسلما وما أنا من المشركين

Dengan dasar inilah seseorang yang beramal akan menemukan hasil kerja kerasnya baik di dunia maupun di akhirat , begitu pula dalam hal memakmurkan masjid , jika semua kegiatan yang berkaitan dengan kemakmuran masjid jika dilaksanakan ikhlas hanya mengharap ridlo dari Allah niscaya akan terwujud kejayaan islam melalui masjid sebagai simbul persatuan dan kesatuan umat islam melalui replica pelaksanaan shalat berjamaah di dalamnya .Jadi inti dari keimanan adalah ikhlas karena Allah sebagaimana diperintahkan Allah dalam surat Al-Baiyyinah ayat 5 :

Artinya :  Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus (Q.S.Al-Baiyinah :5)

2. Beriman kepada hari akhir. واليوم الآخر  

       Beriman kepada hari akhir merupakan kriteria kedua bagi para pemakmur masjid ,karena orang – orang yang memakmurkan masjid tentunya akan berusaha dalam langkah hidupnya selalu hati-hati agar tidak berakibat fatal di akhir hidupnya , karena ia yakin ada akhirat tempat dimana semua manusia mempertanggung jawabkan semua perbuatannya . Jadi secara tidak langsung orang – orang yang rajin ke masjid tentunya akan terjaga dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar. Hal ini tersirat dalam akhir surat At-Taubah tersebut dengan kata .فعسى أولئك أن يكونوا من المهتدين   maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk dari Allah swt.

3. Mendirikan Shalat .

            Mendirikan shalat menjadi kriteria para pemakmur masjid . secara langsung Allah menentukan para pemakmur masjid adalah orang – orang yang mendirikan shalat , Sebagaimna tujuan utama dibangunnya masjid adalah untuk mendirikan shalat secara berjamaah di masjid tersebut , sebagaimana disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 108 : 

Artinya :Sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.(Q.S.At-Taubah :108)

4. Membayar Zakat

            Sebagai ciri ke empat para pemakmur masjid adalah membayar zakat , secara tidak langsung para pemakmur masjid  memil;iki rasa kepedulian  terhadap nasib sesama , ini di simbulkan dari ibadah sholat yang ia laksanakan yang di kahiri dengan salam toleh kekanan dan salam toleh ke kiri. Inilah simbul orang yang melasanakan shalat , tidak tega melihat tetangganya kelaparan , tidak tega melihat saudaranya menderita karena bencana dan tidak tega terhadap siapapun yang sedang tertimpa musibah , maka muncullah ingin memantu, menolong dan meringankan beban saudaranya melalui pelaksanaan zakat, shodaqah, infak dan lain sebagainya. Inilah sikap dan cerminan orang-orang yang memakmurkan masjid .

5. Hanya takut kepada Allah SWT

            Inilah ciri terakhir orang yang memakmurkan masjid , yaitu hanya takut kepada Allah . takut disini memiliki arti takut memusuhi Allah , takut menjauhi Allah dan takut tidak mendapatkan ridlo dari Allah swt. Mak yang dilakukan adalah berusaha menjalani apa saja yuang diperintahkan dan menjauhi segala larangan-Nya . inilah gambaran dan ciri pra pemakmur masjid yang akhirnya menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah yang sesungguhnya .

            Maka di akhir khutbah ini saya memohon marilah masjid – masjid yang saudah kita bangun dengan sekuat tenaga , pikiran dan biaya . kita makmurkan , kira ramaikan jamah shlat lima waktu di dalamnya  dan kita isi dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi kita umat islam dan bagi lingkungan pada umumnya . semoga kita tergolong orang-orang yang bisa memakmurkan masjid akhirnya derajat taqwa dapat kita peroleh , amin yarabbal alamin .

والله سبحانه وتعالى يقول بقوله يهتدى المهتدون. وإذا قرئ القرأن         فا ستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون , أغوذ بالله من الشيطان الرجيم :

  بارك الله لي ولكم في القرأن العظيم ونفعني وإياكم بتلاوته إنه هو الرئوف االرحيم وقل رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين .